Thursday, November 29, 2007

PANCAGILA NEGARA INDON







Sila baca artikel dan laporan akhbar diposting sebelumnya untuk bukti rujukan

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

(maksudnya boleh bernikah berlainan agama dan tinggal satu rumah)

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

(Maksudnya menjadi pelacur, pendatang haram, kriminal & penipu di Malaysia)

3. Persatuan Indonesia

(Maksudnya lari dari indon dan masuk curi-curi ke Malaysia, sebab di indon tak ada pekerjaan dan tak cukup makan = ALIAS PENGUNGSI EKONOMI)

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(Maksudnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin)

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

(Maksudnya bekerja sebagai babu, kuli bangunan, tukang sapu dan pekerjaan hina yang lainnya di Malaysia yang disebut sebagai PAHLAWAN DEVISA. Bila ada bencana mengemis Malaysia)

indon ni bangga sangat dengan pancagila... dari 1945 hingga sekarang masih miskin dan papa kedana


Wednesday, November 28, 2007

Padan muka indon TKW pendatang haram kena rogol

Padan muka indon... tak simpati langsung. Ini semua terjadi disebabkan salah indon sendiri, terlalu korupsi and pentingkan diri sendiri sehingga rakyat merempat ke negara orang. Kebanyakan yang main di forum-forum anak orang kaya indon. Mereka mana faham keadaan sebenar ini. Pahadal mak bapak dia oranglah yang korupsi sehingga rakyat jelata menderita dan akhirnya menyusahkan Malaysia.

HARIAN ANALISA ONLINE (29/11/07)
http://analisadaily.com/0-6.htm

TKW yang Diperkosa di Malaysia Melahirkan

Kuala Lumpur, (Analisa)

Suryani, TKW asal NTB yang menjadi korban perkosaan oleh anggota RELA (pasukan sipil sukarelawan Malaysia), sudah melahirkan seorang anak perempuan 10 hari lalu, dan kini kepolisian Kajang, Selangor, telah meminta keterangan lebih lanjut serta mengambil DNA anaknya untuk diperiksa di laboratorium.

"Kami sudah ambil DNA anaknya Suryani. Kami berharap bisa sebulan selesai," kata Mardina, seorang anggota polisi Kajang, Selangor yang datang ke KBRI Kuala Lumpur, Rabu (28/11).

Ada tiga polisi yang meminta keterangan Suryani, yang didampingi oleh anggota Satgas Perlindungan dan Pelayanan WNI Selamet dan Sapto.

Menurut Mardina, pelaku pemerkosaan yang anggota Rela sudah mengaku memang melakukan perzinahan dengan Suryani, tapi didasarkan suka sama suka.

Namun menurut Migrant Care Malaysia, Alex Ong, kronologi adalah sebagai berikut:

Suryani bekerja sebagai pembantu di Johor Bahru selama dua tahun tapi belum pernah menerima gaji. Suryani selalu meminta gaji, namun majikannya hanya memberi janji dan Suryani akhirnya melarikan diri.

Pada saat Suryani melarikan diri dari rumah majikan, Suryani bertemu dengan seorang perempuan yang belum pernah dikenalnya.

Perempuan tersebut berjanji akan menolong Suryani dan kemudian memperkenalkannya dengan saudara iparnya. Dari orang ketiga itu Suryani dikenalkan lagi dengan RELA yang bernama Shareen Isa (nama ini menurut ingatan Suryani).

RELA tersebut membawa Suryani pada malam hari ke satu rumah kosong. Suryani kemudian didudukkan ke kursi, tangan dan kakinya diborgol serta mulutnya disumpal dengan kain, sehingga tidak bisa bergerak dan tidak bisa berteriak. Suryani disekap selama 1 bulan dan diperkosa dalam keadaan kaki dan tangan di borgol.

Dalam sehari Suryani hanya diberi makan satu kali, dan makan dalam keadaan tangan tetap di borgol, sehingga Suryani terpaksa makan seperti hewan.

Suryani juga tidak diizinkan ke kamar mandi, sehingga dia terpaksa menahan buang air besar dan kecil selama satu bulan. Karena kondisi tersebut, perut Suryani membesar dan kembung. Ia juga tidak pernah ganti pakaian selama satu bulan.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki (juga RELA) datang dan masuk rumah dengan merusak pintu. RELA tersebut memberi uang 20 ringgit kepada Suryani dan menyuruh Suryani untuk melarikan diri dengan naik taksi.

Suryani diberi alamat untuk datang ke rumah orang Pakistan yang beristrikan orang Jawa. Suryani tinggal di rumah orang Pakistan itu selama dua bulan.

RELA yang mengantar Suryani ke rumah orang Pakistan itu, datang lagi dan mengajak Suryani untuk tinggal di rumahnya. Di rumah RELA itu, Suryani muntah-muntah, kemudian dibawa ke dokter dan Suryani ternyata hamil. Di rumah RELA tersebut, Suryani tinggal selama satu bulan.

RELA tersebut membawa Suryani ke polisi Kajang untuk membuat laporan bahwa Suryani diperkosa oleh RELA dan hamil. Pihak Kepolisian Kajang justru membawa Suryani ke penjara Semenyih karena Suryani dalam kondisi tidak berdokumen.

Suryani ditahan di penjara Semenyih selama lima hari. Kemudian pihak KBRI Kuala Lumpur menjemput Suryani dan dibawa ke KBRI.

Sejak itu Suryani berada di penampungan KBRI Kuala Lumpur hingga melahirkan anaknya di RS Ampang sepuluh hari lalu sambil menunggu proses hukum di pengadilan Malaysia. (Ant)

indon di Malaysia akan di tag hingga Ogos 2008

Mulai Disember 2007 indon dan pendatang lain akan di-tag/tanda supaya mudah dipantau. Ianya colour coded.


Untuk kerja babu = Warna ungu
Untuk kerja ladang = Warna merah berbelang kuning
Untuk sektor-sektor lain = Warna merah


Saya ingin menyarankan, untuk indon, kita letak perkataan INDON besar-besar atas i-KAD tersebut serta dikategorikan seperti, babu, kuli & budak.

BERITA HARIAN (29/11/07)

http://www.bharian.com.my/Current_News/BH/Thursday/Nasional/20071129011547/Article

Tempoh dapatkan i-KAD hingga Ogos tahun depan

Oleh Azrina Ahzan

PUTRAJAYA: Jabatan Imigresen memberi tempoh sehingga Ogos tahun depan kepada lebih dua juta pekerja asing di negara ini mendapatkan i-KAD atau berdepan risiko ditahan jika gagal mengemukakan dokumen pengenalan diri.

Ketua Pengarahnya, Datuk Wahid Md Don, berkata i-KAD yang diperkenalkan sejak Mei lalu itu berfungsi sebagai kad identiti untuk kemudahan pekerja asing yang tidak perlu lagi membawa pasport sebagai bukti pengenalan diri.

“i-KAD ini dilengkapi ciri keselamatan tinggi seperti cip Alat Pengenalan Frekuensi Radio (RFID) bagi kemudahan pemilik menyemak dan memperbaharui visa.

“Ia juga memudahkan pegawai penguatkuasa menjalankan semakan dan pemeriksaan kerana mereka tidak perlu lagi membawa mesin pembaca khas untuk melihat data dalam i-KAD kerana ia boleh dilakukan dengan menghantar khidmat pesanan ringkas (SMS) menerusi telefon bimbit biasa," katanya pada sidang media di pejabatnya di sini, semalam.

i-KAD yang mempunyai 17 ciri keselamatan sukar dipalsukan kerana dilengkapi sistem 'ghost image' bagi gambar, teks mikro dan logo yang hanya boleh dilihat di bawah cahaya ultra ungu; peta Malaysia pada lapisan atas dan cetakan teks menggunakan laser.

Selain itu, i-KAD dicetak dalam pelbagai warna bagi membezakan sektor pekerjaan iaitu pegawai dagang memegang i-KAD berwarna emas, isteri atau suami pegawai dagang (emas berbelang merah), pemegang pas lawatan kerja sementara (biru); program My Second Home (perak); pembantu rumah (ungu); perladangan (merah berbelang kuning); sektor-sektor lain (merah) dan pas pelajar (hijau).

Wahid berkata, proses pendaftaran kini bertumpu kepada pelajar asing dan pegawai dagang sebelum diteruskan secara berperingkat ke sektor lain.

“Kerajaan memutuskan tidak mengenakan bayaran bagi permohonan pertama i-KAD, tetapi jika berlaku kehilangan, pemiliknya akan dikenakan bayaran pada kadar yang akan ditentukan kelak," katanya.

Sementara itu, mengulas mengenai proses pendaftaran pelajar asing yang dilaksanakan sejak Mei lalu, Wahid berkata, sebanyak 26,016 daripada 36,872 pelajar sudah didaftarkan.

"Setakat ini, sebanyak 23,687 i-KAD sudah siap dicetak dan daripada jumlah itu sebanyak 20,399 sudah diserahkan kepada pelajar asing terbabit," katanya.

Dalam perkembangan sama, Wahid berkata, beliau kesal dengan sikap kolej swasta yang enggan bekerjasama untuk mendaftarkan pelajar di kolej masing-masing dengan memberikan pelbagai alasan seperti pelajar bercuti dan musim peperiksaan.

"Masalah itu menyebabkan kita gagal mencapai sasaran ditetapkan iaitu untuk mendaftar, mencetak dan menyerahkan i-KAD kepada semua pelajar asing menjelang 14 Disember ini.

"Ada sesetengah kolej kita sudah pergi tiga kali namun gagal mendaftarkan semua pelajar mereka, ini membantutkan hasrat kami menyerahkan i-KAD kepada semua pelajar asing menjelang 14 Disember," katanya.

Wahid berkata, ada kolej mahu jabatan menangguhkan proses pendaftaran sehingga Mac depan kerana pelajar bercuti panjang.

"Kita harap semua kolej swasta memberikan kerjasama sepenuhnya dengan memaklumkan kepada pelajar mereka setiap kali pegawai datang untuk membuat pendaftaran," katanya.

Tuesday, November 27, 2007

indon negara rasis...

indon sangat rasis... buktinya, lihat hyperlink headline, artikel dan video di bawah ini

Anti-Chinese legislation in Indonesia
http://en.wikipedia.org/wiki/Anti-Chinese_legislation_in_Indonesia

"Discriminatory laws against Chinese IndonesianChinese Indonesian. They proliferated under the New Order regime under former President Suharto's reign. Some of these laws have now been revoked since Suharto..."


Xenophopic in indonesia
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/4312805.stm


"Indonesia's ethnic Chinese community forms a significant part of the nation's patchwork of races, ethnicities and tribes.
But living in a country where nationalism often borders on xenophobia, their existence has been punctuated by a series of explosions of violence...."

Anti Chinese continue in Indon

http://www.cnn.com/WORLD/asiapcf/9808/29/indonesia.riot/


"(CNN) -- Indonesian fishermen burned a shrimp warehouse Saturday morning in a second day of rioting against ethnic Chinese in a coastal town, newspapers reported.
Also Saturday, hundreds of Indonesians gathered at a mass grave for victims of the riots that ravaged Jakarta in mid-May."


US$6 reward for raping a Chinese Indonesian; Ethnic Chinese men forced to rape daughters and sisters
http://www.colorq.org/HumanRights/article.aspx?d=Indonesia&x=Reward

"More About The Indonesian Riots
Hi, this is [name deleted]. I have news from Penang (a state in Malaysia). There are some Chinese Indonesian just arrived in Penang. They said many things that are now happening in Indonesia. We don't know much cause, their people trying to cover up everything. The reason of doing all that is because they don't like the CHINESE who can EARN A LIVING, A BETTER LIFE THAN THEM.

These are what they are still doing beside rape, steal, burn:- They force their father to rape their daughter. They force their brother to rape their sister. They record everything into VCD. They take pictures of them to put into the Internet.

They pretending to be soldiers in the day. Putting red, green & blue cross at each house. Red = Burn. Green = There are some more to rape. Blue = There are some more to steal. At night, they will change & do all the stealing, raping & burning. They are in a group.

Someone is behind all these. Someone is giving away $6 US to rape a Chinese Indonesian. Many of them are pregnant."


Indonesian Anti-Chinese Riot, Jakarta, May 1998 (part 1)

http://www.youtube.com/watch?v=5BugSoNpjDQ

Visual mengambarkan kebinatangan bangsa indon...


Ethnic Chinese Moved Assets Overseas Before Riots Erupted : Wary in Jakarta (International Herald Tribune)
http://www.iht.com/articles/1998/05/16/tycoons.t.php

"Even before crowds of rioters ripped through Chinese-owned businesses Thursday and Friday, any Indonesian company with substantial foreign debt was probably insolvent anyway. Now, as mobs burn down Chinese houses and attack ethnic Chinese cars packed with family members, cash and jewelry on the road to the Jakarta airport, some of Indonesia's richest citizens can at least take some comfort that billions of dollars are already safely invested overseas."

Riots, rumors have Indonesian's Chinese on the edge (CNN)
http://www.cnn.com/WORLD/asiapcf/9808/14/indonesia.chinese/index.html?eref=sitesearch

"JAKARTA, Indonesia (CNN) -- Some of the ethnic Chinese at Jakarta's international airport Friday were students bound for schools abroad, and others were vacationers escaping for a long weekend. But some were fleeing in fear.

Rumors that riots will erupt on national independence day Monday have unsettled Indonesia's Chinese minority, a traditional target of social unrest."


BANYAK LAGI SILA GOOGLE SEARCH INDONESIAN RIOT 1998. INDON ADALAH BANGSA GANAS & BINATANG, BUKTINYA BERTABURAN DI INTERNET.




indon bangga dengan TKI (bangsa kuli)

KOMPAS Sabtu, 09 Juni 2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/09/Fokus/3588000.htm

"Pahlawan Devisa"

Kalau boleh memilih, tenaga kerja Indonesia tentu lebih senang mencari nafkah di negeri sendiri dengan gaji yang layak dan suasana kerja yang menyenangkan. Namun, tuntutan ekonomi yang makin mendesak serta sulitnya mendapat pekerjaan di dalam negeri memaksa mereka mencari nafkah ke negeri orang dengan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang dikasihi.

Nasib mereka tak selalu mujur di negeri orang. Sebagian meraih sukses, tetapi tak sedikit yang harus menanggung siksa dan derita. Bahkan, tak terhitung yang harus meregang nyawa di negeri seberang.

Sesuatu yang pasti, di dalam negeri mereka menjadi obyek pemerasan dengan beragam alasan. Julukan ”Pahlawan Devisa” hanya sekadar penghibur untuk perjuangan yang mereka lakukan. (THY)

Pahlawan Devisa yang Sering Teraniaya
http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A678_0_3_0_M

Kalau guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sekalipun gajinya kecil, TKW dan TKI jarang dipandang sebagai manusia terhormat, jika bukan malah dicibirkan. Lihatlah mereka antre di bandara dalam jumlah ratusan yang mau berangkat ke tanah rantau demi sesuap nasi.

Laki-laki dan perempuan sama saja, antre dengan sopan menanti giliran untuk masuk ke ruang tunggu sebelum terbang meninggalkan Tanah Air yang mereka cintai. Di antara mereka ada yang harus meninggalkan anak dan suami, semata-mata karena negeri ini tidak mampu membukakan lapangan kerja buat mereka. Inilah sebuah negeri bak pepatah mengatakan: “Itik berenang dalam air, mati kehausan; ayam bertelur di atas padi, mata kelaparan.”

Kita bisa membayangkan betapa berat perasaan mereka berpisah, tetapi itulah garis retak tangan yang harus dijalaninya. Bangsa ini masih terseok dalam menghidupi rakyatnya sendiri karena perbuatan salah urus dan korupsi telah demikian menggurita dalam tempo yang panjang. Di depan beberapa forum saya sering mengatakan: “Yang lumpuh adalah akal sehat; yang lumpuh adalah hati nurani.” Akal sehat dan hati nurani yang tidak berfungsi inilah sebenarnya yang menjadi pangkal utama mengapa sebagian kita harus mengais rezeki ke bumi lain dengan segala risiko yang harus ditanggung.

Bukan tidak baik mencari penghidupan di negara lain. Tetapi, kalau kita berbicara tentang TKW dan TKI, di situ terlihat sebuah keterpaksaan. Di antara mereka banyak yang beruntung, dapat membangun kehidupan keluarga yang lebih cerah di kampungnya masing-masing setelah pulang, sementara sebagian TKW menjadi korban penindasan dan perkosaan.

Pemerintah kita belum maksimal melindungi mereka yang bernasib malang itu. Itu belum lagi kelakuan sebagian para cukong, domestik atau asing, yang bersikap kasar dan seenaknya saja memperlakukan para pekerja ini. Tidak jarang pula terjadi dalam perjalanan pulang dari rantau, masih ada saja manusia biadab yang merampok harta mereka di bandara atau dalam perjalanan ke desa. Panorama buram ini masih akan berkelanjutan selama para TKW dan TKI ini tidak mendapat perlindungan dan penghormatan wajar sebagai manusia penuh oleh aparat hukum kita.

Mengapa tulisan ini bernada marah ketika membicarakan TKW dan TKI ini? Karena saya memandang mereka sebagai pahlawan devisa yang sangat berjasa, tetapi sering telantar. Mereka turut membantu negara yang masih oleng ini dalam menghadapi banyak masalah keuangan. Data di bawah akan menjelaskan apa yang saya maksud tentang betapa mulianya para pekerja ini bagi kepentingan bangsa.

Harian Republika, 22 Februari 2006, halaman 23, memuat keterangan Wakil Menteri SDM Malaysia, Datuk Abdul Rahman Bakar, tentang triliunan devisa yang masuk ke Indonesia setiap tahun dari para TKW-TKI ini. Ini baru dari negeri jiran. Bagaimana pula dari Arab, Korea, Hong Kong, Eropa, Amerika, dan dari negara lain. Menurut Bakar, pada tahun 2005 saja para pekerja asing telah mentransfer 5 miliar ringgit ke negeri asalnya. Dari sekitar 3 juta pekerja legal atau sebaliknya, 80 persen berasal dari Indonesia.

Jadi, jika dihitung devisa yang masuk tahun lalu ke negeri kita adalah sekitar 80 persen, dikalikan 5 miliar ringgit (sekitar Rp 11,5 triliun), sama dengan Rp 7,6 triliun. Coba bayangkan betapa besarnya sumbangan mereka untuk membantu negara ini dengan cara mereka yang penuh tantangan itu. Berapa triliun pula yang ditransfer oleh TKW-TKI yang bekerja di negara-negara lain, tentu angkanya akan sangat besar.

Tetapi, siapa di antara kita yang memuliakan mereka? Tidak banyak. Dan mereka barangkali juga tidak ingin dimuliakan. Sekiranya mereka dapat perlindungan sebelum berangkat, di tempat kerja, dan setelah pulang ke Tanah Air, itu sudah lebih dari cukup. Sebagai bagian dari rakyat kecil mereka tidak punya angan-angan yang terlalu jauh. Selamat pergi-pulang, sudah merupakan kebahagiaan bagi mereka. Mereka adalah pahlawan devisa yang sebenarnya.

Khusus untuk Malaysia, ada sekitar 2,4 juta TKW-TKI kita yang mencari rezeki di sana. Mereka dikenal sebagai pekerja yang ulet, kompetitif, sekalipun dibayar murah, seperti diakui juga oleh Bakar. Banyak yang berhasil, di samping yang kandas. Sebagai contoh kecil, ada pemilik dua bus mini di Sumpur Kudus yang disopirinya sendiri ke berbagai kota di Sumatra Barat, adalah sebagai hasil dari jerih payahnya selama bekerja sebagai TKI di Malaysia. Tetapi, yang harus terjun ke laut dan berenang ke pantai karena takut ditangkap polisi, juga tidak kurang jumlahnya. Cerita ini saya dengar dari mereka yang mengalami. Hidup memang penuh warna.

Kita tidak boleh memandang enteng terhadap sesama. Mungkin para pekerja ini akan lebih dulu masuk surga tinimbang mereka atau kita yang tidak jelas misi hidupnya.
Sumber: Republika Online, 7 Maret 2006

Kedai warga indon kena sita

BERITA HARIAN

http://www.utusan.com.my/utusan/content.asp?y=2007&dt=1127&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_10.htm

MPK sita tiga gerai warga indon
Oleh: ABDUL YAZID ALIAS

KLANG 26 Nov. – Majlis Perbandaran Klang (MPK) melancarkan operasi pembersihan gerai haram termasuk gerai yang dimiliki warga indon di sekitar bandar ini mulai hari ini.

Operasi tersebut dilancarkan berikutan aduan serta rungutan orang ramai terhadap aktiviti gerai-gerai tersebut sehingga mewujudkan kesesakan serta mencacatkan pemandangan.

Dalam operasi yang dijalankan petang ini, sebanyak tiga buah gerai milik warga indon telah disita kerana tidak mempunyai lesen penjaja manakala 14 peniaga tempatan masing-masing dikompaun tidak melebihi RM1,000.

Pengarah Pelesenan MPK, Azhar Shamsudin berkata, tindakan itu dibuat sebagai salah satu usaha MPK untuk ‘membersihkan’ bandar itu daripada aktiviti yang menyalahi peraturan di bawah kerajaan tempatan.

“Kita halang peniaga tempatan untuk menjaja, tetapi mereka perlu dapatkan lesen yang sah manakala warga indon adalah tidak layak untuk memohon mana-mana lesen menjaja.

“Sekiranya didapati mana-mana warga indon yang menjalankan aktiviti ini, MPK akan terus menyita gerai mereka tanpa mengeluarkan notis terlebih dahulu seperti mana diberikan kepada peniaga tempatan,” katanya ketika dihubungi di sini hari ini.

Utusan Malaysia hari ini melaporkan kebimbangan penduduk tempatan di bandar itu mengenai kewujudan gerai-gerai haram milik warga indon yang semakin berleluasa di bandar itu.

Pertumbuhan yang tidak terkawal itu telah menyebabkan beberapa kawasan di bandar itu seperti di sekitar Stesen Bas Klang ‘dikuasai’ warga asing khususnya dari Indon.

Malah, golongan pendatang itu dilihat turut berani membuka meja-meja makan di kaki lima.

Situasi itu turut menimbulkan kemarahan penjaja tempatan yang mendakwa pendapatan mereka terjejas akibat kebanjiran penjaja haram serta warga indon yang bertumpu ke kawasan itu.

Dalam pada itu, Azhar turut memberitahu bahawa pihaknya akan meneruskan operasi tersebut supaya kegiatan penjaja haram di bandar itu dapat ditangani sepenuhnya.

“Kita telah kenal pasti kawasan yang menjadi lokasi utama penaja haram menjalankan operasi mereka.

"Oleh itu, kita akan membuat pemantauan yang lebih kerap di kawasan terbabit termasuk tindakan yang tegas terhadap mereka," ujarnya.

Monday, November 26, 2007

Tipikal indon kalau boleh semua nak percuma/gratis

Teringat saya semasa buffet dengan mat indon... atau dengan pegawai dari indon, semua nak dilanyaknya macam tak pernah nampak makanan. Sehinggakan kalau kami nak jemput tetamu indon makan terpaksa dicatu, jika tidak habis semua dilanyak indon. INDON BANGSA PENGEMIS

'Buy Nothing Day' almost turns ugly as crowds arrive in hunt for freebies
http://www.thejakartapost.com/detailheadlines.asp?fileid=20071126.A06&irec=5

The Jakarta Post, Jakarta
The global Buy Nothing Day event was marked again in the capital Sunday, with a number of young Jakartans playing leading roles in organizing it. Special events were held in front of malls as well as in a city park.

On the road between the Plaza Senayan and Senayan City malls, a theatrical performance was staged while volunteers handed out 'Buy Nothing Day' flyers to passersby. At the same time in Sambas Park, another kind of celebration took place in the form of a 'really, really free market' at which people could bring stuff to give away.

A performer in the event at the shopping malls was Nidya Paramita, 24, from a community called the Red Rebel DIY House. She said that in order to mark the day, her 25-strong group were distributing flyers to people in cars and on the streets, as well as putting on a theatrical and musical performance at noon.

"We believe that this area is where consumerism has its roots. Later, we will join the other community in Sambas Park," she said.

Meanwhile, the free market in Sambas Park, which lasted from 10 a.m. to 5 p.m., provided free food, clothes, free T-shirt printing, book readings, acupressure, a free acting class and an introduction to Braille from the Mitra Netra Foundation for the blind.

Ika Vantiani, 31, from a community called the Dipepi Free Food Gang, said that Buy Nothing Day was intended to counter consumerism and to promote the concept that sharing was better than buying.

"The spirit of Buy Nothing Day is sharing, not charity," Ika said.

Buy Nothing Day is a global event initiated by Canadian magazine Adbusters to discourage shopping and promote sharing. It aims at reducing consumerism and the ensuing waste. The first Buy Nothing Day took place in Canada in the early 1990s, Ika said.

Ika added that they wanted to run the event in the same way as in the U.S., where non-material things are also given free.

"In the U.S. there was this woman who didn't bring any stuff to give away, but rather said she was a good listener. In no time at all, a long line had formed to avail of her services," Ika said.

The event, however, took a not unsurprising turn for Jakarta, with more people turning up looking to get freebies than to give.

Ika had initially announced the free market on a number of mailing lists in her network. However, radio stations and newspapers interviewed her before the event and hence the rapacious throngs.

At least 100 people visited the park, with many of them not quite grasping the concept behind the free market.

Strangers to the idea of sharing and 'Buy Nothing Day', many of the visitors appeared hell bent on grabbing everything in sight.

The name "free market" also resulted in a misperception among some housewives, who turned up looking for rice and sugar handouts. An irate visitor from East Jakarta even demanded that she be reimbursed her bus fare after she found that there were actually very few freebies on offer.

However, many others were quite happy to while away the afternoon in the park.